Jirapah Keseruan Skena Musik Negri Paman Sam

Berkancah menjadi musisi di negri Paman Sam, adalah suatu dambaan, bahkan idola bagi sebagian orang. Karena negara tersebut terkenal dengan berbagai musisi yang sangat luar biasa, untuk menjadi bintang di negri tersebut ternyata tidaklah mudah, banyak musisi yang hidupnya pasang surut untuk sekedar mengadu nasib menjadi musisi di negara super power seperti Amerika. Untungnya, di segi side-stream, ada musisi Indonesia yang pernah mencicipi kehidupan skena musik di negri yang terkenal dengan patung libertynya tersebut. Ia adalah Ken jeni dan Mar Galo dari Jirapah.
Ken dan Mar pernah merasakan bermusik di New York, bahkan Mar suka mengorganize Gigs di New York, itu merupakan suatu kesempatan besar bagi saya pribadi. Selain persoalan skena musik di New York, Ken dan Mar juga akan berceita soal single mereka yang masuk dalam kompilasi frekuensi perangkap tikus Vol.2 beberapa waktu lalu. Simak hasil wawancara saya Salman Achmad dengan Ken Jeni dan Mar Galo.
– Gimana awal mula bisa terbentuknya Jirapah? dan bagaimana kondisi skena musik di New York sendiri?
Ken Jenie: Waktu saya dan Mar masih berdomisili di New York, saya sering mengarang dan merekam lagu di kamar apartment dan membaginya kepada teman-teman dekat. Mar dan seorang teman, Max (makanya nama EP pertama kami, “Thank You, Max”) memberi dorongan supaya saya tidak hanya membuat musik tetapi juga membagikannya. Pada akhirnya saya dibantu oleh beberapa teman untuk rekaman, Mar kemudian belajar bermain bass dan teman-teman kami yang kebetulan bisa bermain drum sering kali membantu kami main saat ada gigs. Tahun 2010 saya balik ke Indonesia. Awal-awalnya, saya bermain sendiri. Untungnya saya lalu ketemu Jan, Nico dan Yudhis yang juga suka bermusik. Akhirnya jadilah line-up Jirapah yang sekarang ini.
Kalau kondisi skena musik di New York hidup sekali. Memang circuit musik disana sudah sangat established, jadi setiap malam selalu ada gigs di berbagai macam venue. Banyak sekali musisi yang tinggal disana, dan banyak band sering mengadakan tur, jadi sangat gampang untuk mendapatkan referensi baru. Biasanya kami mengirim demo kami ke berbagai venue dan lalu mereka mengajak kami main. Menurut saya ini yang paling seru karena kita biasanya manggung dengan berbagai macam band sesuai pilihan pemilik venue. Suatu malam, saya lupa nama venue-nya, acaranya dibuka dengan band electro-pop, setelah itu kami main, setelah kami ada musisi harsh noise, dan setelah itu band country folk rock. Menyenangkan karena setiap kali kita manggung kita bisa berteman dengan band yang juga manggung di malam yang sama. Mungkin Mar bisa menjawab lebih dalam mengenai skena musik New York karena dia dulu suka organize gig disana.
Mar Galo: Awal mulanya sudah dijelaskan yah oleh Ken. Kondisi skena musik di New York seru sekali karena gak akan pernah kehabisan gigs. Dari band yang obscure sampe yang udah mainstream. Pilihan banyak banget. Hampir setiap genre pasti ada penontonnya. Rata-rata venue juga lumayan terbuka untuk band baru. Dulu pernah bantu organize festival band-band Jepang di CBGB dan Knitting Factory – bikin acara di situ sangat mudah. Ngurusnya gampang, deal-nya jelas dan gak mahal. Skena musik di New York itu juga gede banget sehingga band-band lebih terpisah tapi  juga pada saat yang bersamaan banyak yang sama genre-nya bisa lebih gampang dikumpulin.
– Kesulitan apa yang sebenarnya di hadapi Jirapah dalam bermusik di New York?
Ken Jenie: Kalau dari segi kreatif saya tidak pernah mengalami kesusahan ketika bermusik disana. Karena banyak sekali referensi, mudahnya mencari gigs, dan akses ke peralatan musik mudah. Saya rasa, saya justru jadi manja karena semua yang kami perlukan terasa seakan-akan sudah tersedia. Mungkin kalau kami memang niat menjadi band yang dikenal akan mengalami kesulitan karena skala skena musik disana besar  dan “saingan”-nya banyak – tetapi kami tidak kepikiran ke arah situ.
– Ada tidak, hal yang tak terlupakan ketika di New York bersama Jirapah?
Ken Jenie: Untuk saya sendiri, saya kangen banget sama toko Other Music. Sejak sekolah sampai bekerja, saya setiap minggu datang ke toko ini dan belanja musik dari rak bekasnya. Harga CD, piringan hitam dan kaset bekasnya murah, staff-nya yang ramah punya seleksi yang sangat bagus dan referensi mereka luas banget jadi mereka sangat membuka wawasan saya. Saya sering memilih album secara acak disini dan selalu puas.
Mar Galo: Hal yg tidak terlupakan adalah bermain di venue yang berbeda-beda di neighbourhood yang beda-beda juga. Tempat-tempatnya banyak yang seru. Selain itu, Other Music dan Kim’s Video adalah dua tempat favorit yang sering dikunjungi untuk browsing musik dan film yang terseleksi dengan bagus.
– Ketika kembali ke Jakarta, Apakah memiliki ekspetasi yang besar? karena sempat berkancah musik di New York?
Ken Jenie: Tidak. Waktu saya pindah ke Indonesia di tahun 2010 Jirapah dijalankan seadanya saja. Saya merasa sangat beruntung karena banyak teman-teman yang memberi Jirapah kesempatan untuk bermain. Saya rasa kalau kami akhirnya merilis album thank you list-nya akan cukup panjang, hahaha
– Jirapah sendiri sudah memiliki album atau belum? kalau ada, kira-kira kapan proses album itu rampung?
Ken Jenie: Kami sudah ada beberapa rilisan digital, satu rilisan 7’ berkat Orange Cliff Records, dan masuk beberapa album kompilasi. Kalau album full-length kita harus buat tahun ini, sudah terlalu lama tertunda. Dan sekarang dana untuk rekaman kami sepertinya sudah mencukupi.
– Kalau kalian boleh mendeskripsikan genre, kalian sebenarnya memainkan genre apa sih? ehehe
Ken Jenie: Kepinginnya macam-macam, tapi mungkin secara garis besar pop-rock ya.
Konsep lagunya adalah hidup tanpa korupsi – bahwa menjalankan hidup yang jujur lebih menyenangkan karena tidak ada beban yang datang dari kegiatan mencuri. Jadi musiknya memang sengaja terdengar santai. Karena bahasa Indonesia saya kurang baik dan benar, Mar Galo menulis liriknya berdasarkan vokal yang sudah saya rekam. Bagus banget liriknya, jadi kemungkinan besar di masa mendatang lagu-lagu Jirapah akan memakai bahasa Indonesia. Mungkin Mar bisa menjelaskan proses penulisan liriknya lebih baik.
Mar Galo: Intinya seperti yang sudah diceritakan. Bahwa hidup akan lebih ringan atau tanpa beban kalau kita jujur. Kehidupan sehari-hari sudah cukup berat. Lebih baik tidak ditambah dengan perbuatan yang akan menambah beban pikiran atau moral.
– Tolong jabarkan dong bebas berapa kalimat tentang musik side-stream Indonesia? hahaha
Ken Jenie: Wah, apa ya… Pastinya senang banget bisa ikut bermain musik dengan musisi-musisi di sini. DIY ethic-nya bagus banget, unsur komunitasnya sangat terasa dan karya-karyanya juga banyak sekali yang menarik. Mudah-mudahan di masa mendatang kami bisa manggung lebih sering di luar Jakarta supaya bisa menjawab pertanyaan ini dengan lebih baik.
Jadi, menurut saya pribadi ada untungnya kesulitan yang di alami beberapa musisi Indie perihal teknis yang di alami di musik indie, karena membuat para musisi bekerja lebih giat dan lebih extra sehingga hasilnya pun memuaskan sesuai dengan harapan, karena mengutip kata ken “.. saya justru jadi manja karena semua yang kami perlukan terasa seakan-akan sudah tersedia…” Karena semua hal serba ada membuat kalian menjadi manja, yang mungkin ini hanya celotehan sok tau dari saya, yang tidak patut kalian masukan ke hati. Jalanilah sesuka kalian sehingga mendapatkan kesuksesan.

Baca Juga  Website Terbaik Untuk Download Video 3GP

Sumber: Serubanget.top